Strawberry
Stroberi berasal dari Eropa dan Amerika Utara, hasil persilangan dua spesies stroberi liar pada abad ke-18.
Stroberi adalah tanaman herba dengan batang pendek dan stolon (geragih). Daunnya bertangkai panjang, berbentuk segitiga dengan tepian bergerigi. Bunga kecil berwarna putih, dan buahnya berbentuk bulat lonjong dengan warna merah terang saat matang, dihiasi bintik-bintik biji di permukaannya.
Stroberi tumbuh optimal di daerah beriklim sejuk dengan suhu 15–25°C. Tanah yang ideal adalah tanah subur, bertekstur lempung berpasir, dengan pH 5,5–6,5. Stroberi memerlukan sinar matahari penuh dan pengairan yang cukup, terutama pada musim kering.
Stroberi mulai dibudidayakan pada abad ke-14 di Eropa, tetapi varietas modernnya berasal dari hasil persilangan pada abad ke-18. Di Indonesia, stroberi diperkenalkan pada era kolonial Belanda dan kini banyak dibudidayakan di daerah dataran tinggi.
Stroberi dikonsumsi segar atau diolah menjadi jus, selai, kue, es krim, dan produk olahan lainnya. Buah ini kaya akan vitamin C, antioksidan, dan serat, yang bermanfaat untuk kesehatan kulit, meningkatkan kekebalan tubuh, dan melindungi dari penyakit kardiovaskular.
Stroberi tersebar luas di negara-negara beriklim sedang seperti Amerika Serikat, Meksiko, Spanyol, dan Korea Selatan. Di Indonesia, stroberi dibudidayakan di daerah dataran tinggi seperti Lembang (Jawa Barat), Malang (Jawa Timur), dan Berastagi (Sumatera Utara).
Stroberi memiliki nilai ekonomis tinggi sebagai komoditas hortikultura yang diminati pasar domestik dan internasional. Selain itu, stroberi mendukung pengembangan pariwisata agro di daerah pegunungan Indonesia.
Budidaya stroberi dimulai dengan pembibitan melalui stolon atau biji. Bibit ditanam pada bedengan dengan jarak tanam 30–40 cm. Pemeliharaan meliputi penyiraman rutin, penyiangan, pemupukan, dan pengendalian hama seperti kutu daun. Stroberi biasanya mulai berbuah dalam 3–4 bulan setelah tanam, dan buah dipanen secara bertahap saat matang sempurna.