Teh
Teh berasal dari kawasan Asia Timur, khususnya wilayah Cina dan India bagian utara. Teh telah dikenal sebagai minuman kesehatan dan tradisi selama lebih dari 4.000 tahun.
Teh adalah semak atau pohon kecil yang dapat tumbuh hingga 2–5 meter jika tidak dipangkas. Daunnya berbentuk lonjong, tebal, berwarna hijau tua, dan mengandung zat katekin. Bunganya kecil, berwarna putih, dan tumbuh di ketiak daun.
Teh tumbuh optimal di daerah dengan suhu 14–27°C, curah hujan tahunan 1.200–2.500 mm, dan kelembapan tinggi. Tanaman ini membutuhkan tanah subur, dengan pH 4,5–5,5, serta ketinggian 800–2.000 meter di atas permukaan laut.
Budidaya teh dimulai di Cina pada abad ke-3 SM. Dari Cina, teh menyebar ke Jepang, Asia Selatan, hingga Eropa pada abad ke-16 melalui perdagangan. Di Indonesia, teh diperkenalkan oleh Belanda pada abad ke-18, dimulai dari perkebunan di Jawa Barat.
Teh diolah menjadi berbagai jenis seperti teh hijau, teh hitam, teh oolong, dan teh putih. Produk-produk teh memiliki manfaat kesehatan seperti antioksidan, pencegahan penyakit jantung, dan meningkatkan konsentrasi. Selain itu, teh juga digunakan dalam kosmetik dan bahan makanan.
Produsen utama teh dunia meliputi Cina, India, Sri Lanka, dan Kenya. Di Indonesia, teh ditanam di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan Sumatera Selatan. Jawa Barat adalah pusat produksi teh nasional.
Teh merupakan komoditas agribisnis penting yang memberikan kontribusi terhadap ekspor dan ekonomi lokal. Selain itu, perkebunan teh mendukung pariwisata agro, menciptakan lapangan kerja, dan menjaga ekosistem di dataran tinggi.
Budidaya teh dimulai dengan pembibitan dari biji atau stek. Bibit ditanam dengan jarak tanam 1–1,5 meter pada lahan berteras untuk mencegah erosi. Pemeliharaan meliputi pemangkasan rutin, pemupukan, dan pengendalian hama serta penyakit. Daun teh dipanen secara manual (pemetikan pucuk muda) setiap 7–14 hari, kemudian diolah menjadi produk teh sesuai jenis yang diinginkan.